Tak perlu jadi yang paling pintar untuk tahu bahwa
kenyataan tak selamanya sesuai harapan. Kita yang semula sulit
terpisahkan, kini bertolak belakang. Dulu, kamu hanya ingin denganku,
aku juga hanya ingin denganmu. Tapi ternyata hanya keinginanku yang
terus bertahan seperti itu.
Dari hati yang terdalam, izinkan aku mengucap maaf.
Maaf, aku terlanjur mencintamu begitu dalam. Maaf, aku merasa
memilikimu, dan masih ingin begitu hingga sekarang. Maaf, tak seperti
kamu, aku gagal menerima keadaan bahwa kita sudah tak sejalan.
Entah siapa yang semestinya kusalahkan; ekspektasi
yang ketinggian, atau semesta yang terlalu terlambat untuk menyadarkan.
Aku butuh lebih dari sekedar waktu, untuk memahami bahwa kita sudah
tidak seperti dulu lagi. Untuk memaklumi, bahwa kita sudah tidak bersama lagi. Untuk mengerti, bahwa aku sudah tidak seberarti
dulu lagi. Khayal masih menerbangkanku begitu tinggi, tanpa kusadari
bahwa cinta mu tak lagi disini.
Sungguh, aku turut bahagia jika kamu baik-baik
saja. Namun apakah kamu tahu bahwa ‘perpisahan’ ialah tamparan keras
bagi hati?
Lalu aku bisa apa? Sementara luka kujahit sendiri,
kamu di sana sudah tak lagi ambil peduli. Andai sedikit saja kamu mau
menoleh lagi, lihat aku. Masih di sini, masih membuka hati, masih
menganggap kamu lebih dari berarti.
Aku belum terbiasa untuk menerima kenyataan sesakit ini. Aku belum mampu untuk mengakui bahwa kini aku bukanlah tujuanmu. Kukira aku selamanya jadi yang kamu butuhkan, ternyata itu
sebatas harapan.
Maaf, bila yang kubutuhkan masihlah kamu
di saat kamu sama sekali tidak. Akankah serpihan-serpihan yang retak ini bisa utuh tanpa kamu? Bahkan mengkhayalkannya saja aku tak berani.
Aku tersadar bahwa cinta tak mampu dipaksakan. Percuma aku bersih tegas untuk tinggal jika kamu tetap memilih untuk pergi. Kamu seperti ada untuk kucintai saja, tetapi tidak untuk
kumiliki sepenuhnya.
Untuk kamu-03.
Untuk kamu-03.



